BANDUNG — Nama Irjen Pol. (Purn.) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N., yang akrab disapa Abah Anton, memiliki rekam jejak panjang di institusi Polri. Kariernya membentang dari dunia reserse, jabatan kewilayahan, Kepala Divisi Humas Polri, Kapolda Sulawesi Selatan hingga Kapolda Jawa Barat.
Setelah memasuki masa purnatugas, perjalanan pengabdiannya berlanjut melalui politik dan kegiatan sosial-kebudayaan. Pada 2026, Anton dipercaya menjadi Ketua Umum Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat periode 2026/2027.
Dari Akpol 1984, Menapaki Dunia Reserse
Anton merupakan lulusan Akademi Kepolisian 1984. Ia kemudian mengikuti sejumlah pendidikan pengembangan kepolisian, antara lain PTIK, Sespim, Sespati dan Lemhannas.
Karier awalnya banyak bersentuhan dengan fungsi reserse. Pengalaman tersebut kemudian membawanya menangani sejumlah perkara yang mendapat perhatian publik.
Pikiran Rakyat mencatat keterlibatannya dalam pengusutan kasus Marsinah pada 2000 dan kemudian perkara Munir ketika ia bertugas di lingkungan Polda Metro Jaya. Pada 2003, Anton juga bertugas di Bareskrim Polri sebagai Kanit III Direktorat I Keamanan dan Kejahatan Transnasional.
Catatan yang sama menyebut Anton telah menduduki 27 posisi jabatan sepanjang kariernya di kepolisian, dengan jabatan terakhir sebagai Wakalemdiklat Polri.
Menjadi Kadiv Humas Polri
Salah satu fase penting dalam karier Anton adalah ketika dipercaya menjadi Kepala Divisi Humas Polri.
Pengalaman di bidang reserse dan komunikasi publik kemudian menjadi kombinasi yang penting dalam perjalanan kariernya. Setelah dari lingkungan Mabes Polri, Anton dipercaya menduduki jabatan kepala kepolisian daerah.
Ia pernah menjadi Kapolda Sulawesi Selatan, sebelum kemudian ditugaskan memimpin Polda Jawa Barat.
Kapolda Jawa Barat: Kembali ke Tanah Priangan
Pada Desember 2016, Anton resmi menjadi Kapolda Jawa Barat, menggantikan Irjen Pol. Bambang Waskito. Sebelumnya, Anton pernah menjadi Kapolwil Priangan sehingga Jawa Barat bukan wilayah yang sama sekali asing baginya.
Saat menerima amanah tersebut, Anton menyatakan akan melanjutkan program yang telah berjalan dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat Jawa Barat.
Salah satu pendekatan yang dikenalkannya ketika memimpin Polda Jabar adalah konsep PDLTT — Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, Terstruktur dan Terukur.
Memperkuat Kemitraan Polisi dan Masyarakat
Salah satu hal yang cukup menonjol dalam kepemimpinannya adalah upaya memperkuat hubungan antara kepolisian dengan berbagai unsur masyarakat.
Pada 2017, Polda Jabar memberikan penghargaan Honorary Police kepada sejumlah tokoh Jawa Barat yang dinilai memiliki kontribusi terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat.
Dokumentasi Pemprov Jawa Barat mencatat penghargaan tersebut diberikan kepada tokoh pemerintahan, TNI, kejaksaan, peradilan, agama, adat, pendidikan, pemuda dan media.
Pendekatan tersebut memperlihatkan perhatian Anton terhadap konsep kemitraan polisi dengan masyarakat, bukan semata-mata pendekatan penegakan hukum.
Penanganan Teror Bom Cicendo
Pada masa Anton menjabat Kapolda Jabar, wilayah Bandung menghadapi salah satu peristiwa keamanan yang mendapat perhatian nasional, yakni teror bom panci di kawasan Cicendo pada Februari 2017.
Sebagai Kapolda, Anton menjadi salah satu pejabat yang memberikan keterangan mengenai penanganan perkara tersebut. Polda Jabar kemudian memberikan penghargaan kepada sejumlah personel yang dinilai berprestasi dalam penanganan kasus tersebut. Dokumentasi Pemprov Jabar mencatat sebanyak 35 personel Polda Jabar menerima penghargaan terkait penanganan kasus bom panci Cicendo.
Tanda Jasa Selama Pengabdian
Rekam jejak Anton juga ditandai dengan sejumlah penghargaan kedinasan.
Pikiran Rakyat mencatat antara lain:
Satyalancana Dwidja Sistha — 2014
Bintang Bhayangkara Nararya — 2014
Bintang Bhayangkara Pratama — 2016
Penghargaan tersebut merupakan bagian dari catatan formal pengabdiannya selama berkarier di institusi Polri.
Dari Polisi Menjadi Tokoh Budaya
Setelah mengakhiri karier di kepolisian, Anton memasuki babak baru.
Perhatian terhadap budaya Sunda semakin terlihat dalam aktivitas publiknya. Transformasi tersebut menarik karena sebelumnya ia menjalani puluhan jabatan di lingkungan kepolisian, sementara setelah pensiun ia semakin banyak tampil dalam kegiatan sosial dan kebudayaan.
Pada 2026, Gubernur Jawa Barat melalui SK Nomor 430/Kep.120-Disparbud/2026 tanggal 6 Maret 2026 menetapkan Anton sebagai Ketua Umum merangkap anggota Majelis Adat Sunda Jawa Barat periode 2026/2027.
MASDA sendiri mempunyai tugas antara lain menampung aspirasi masyarakat adat dalam rangka pelestarian budaya di kampung adat, melakukan koordinasi dengan masyarakat adat, serta merumuskan rekomendasi pelestarian adat.
Kampung Adat Menjadi Perhatian
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua MASDA, Anton pada Juli 2026 menyampaikan bahwa penguatan kampung adat menjadi salah satu agenda utama pelestarian budaya Sunda.
Menurut pemberitaan yang memuat pernyataannya, pendekatan tersebut diarahkan pada penguatan budaya dari tingkat masyarakat dan kampung adat sebagai basis kehidupan budaya Sunda.
Peran ini memperlihatkan kesinambungan lain dalam perjalanan Anton: ketika masih menjadi pejabat kepolisian, ia membangun kemitraan dengan tokoh adat dan masyarakat; setelah pensiun, ia kemudian masuk lebih jauh ke ruang kebudayaan.
Dua Dunia Pengabdian
Jika perjalanan panjangnya dipetakan, rekam jejak Abah Anton Charliyan dapat dilihat melalui dua fase besar.
Pertama, fase Bhayangkara.
Dimulai dari Akpol 1984, berkembang melalui fungsi reserse, berbagai jabatan kewilayahan, Mabes Polri, Kadiv Humas, Kapolda Sulawesi Selatan dan akhirnya Kapolda Jawa Barat.
Kedua, fase pengabdian masyarakat dan budaya.
Setelah purnatugas, Anton terlibat dalam politik dan kemudian semakin aktif dalam kegiatan sosial serta kebudayaan, hingga dipercaya memimpin Majelis Adat Sunda Jawa Barat.
Dengan demikian, rekam jejak Anton bukan hanya berbicara tentang jabatan yang pernah diembannya, tetapi juga tentang pergeseran bentuk pengabdian: dari tugas kepolisian dan keamanan menuju ruang sosial, adat dan kebudayaan.
7 Catatan Prestasi yang Menonjol
- Lulusan Akpol 1984 dan menempuh berbagai pendidikan pengembangan kepolisian.
- Memiliki pengalaman panjang di bidang reserse, termasuk keterlibatan dalam pengusutan perkara besar yang diberitakan secara luas.
- Menduduki 27 posisi jabatan dalam karier Polri, menurut catatan Pikiran Rakyat.
- Mendapat kepercayaan sebagai Kadiv Humas Polri dan Kapolda Sulawesi Selatan.
- Memimpin Polda Jawa Barat dan mengembangkan pendekatan kemitraan dengan berbagai elemen masyarakat.
- Menerima sejumlah tanda jasa kepolisian, termasuk Bintang Bhayangkara Nararya dan Bintang Bhayangkara Pratama.
- Dipercaya memimpin Majelis Adat Sunda Jawa Barat 2026/2027, dengan agenda pelestarian adat dan penguatan kampung adat.
Abah Anton Charliyan kini berada pada fase berbeda dalam perjalanan hidupnya. Seragam Bhayangkara memang telah dilepas, tetapi ruang pengabdiannya terus berlanjut—kali ini melalui masyarakat, adat dan kebudayaan Sunda.***
The post Abah Anton Charliyan: Jejak Panjang dari Reserse, Kapolda Jabar hingga Pengabdian Budaya Sunda appeared first on SOROT GARUT.
